Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam NTB, Herman Zuhdi Gondol Doktor Islam Nusantara
Humas Unusia
Content Writer
Jakarta – Herman Zuhdi menjalani ujian terbuka promosi doktor di Aula Jakoeb Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Rabu (22/4). Disertasi yang diangkat berjudul “Peran dan Kontribusi TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada Transformasi Pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat (1934–1997)”.
Dalam sidang tersebut, Herman mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji yang dipimpin Dr. Ahmad Su’adi, M.Hum., didampingi Moh. Hasan Basri, MA., Ph.D., serta penguji Dr. M. Fakhruddin, M.Si. dan Dr. Moh. Yusni Amru Ghozali, M.Ag., bersama Dr. Ayatullah, M.Ud. sebagai Co-Promotor dan Dr. Siti Nabilah, S.Sos.I., M.Pd. sebagai Promotor.
Dalam penelitiannya, Herman Zuhdi menghadirkan pembacaan baru atas sejarah pendidikan Islam di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya terkait peran sentral TGH. Zainuddin Abdul Madjid dalam mendorong perubahan sistem pendidikan Islam di daerah tersebut.
Penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan Islam di NTB tidak berlangsung secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dimotori oleh TGH. Zainuddin Abdul Madjid sebagai ulama, pendidik, sekaligus agen perubahan sosial. Ia tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan, tetapi juga membangun sistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman lokal.
“Transformasi pendidikan yang dilakukan TGH. Zainuddin Abdul Madjid bukan sekadar perubahan kelembagaan, tetapi juga menyentuh cara pandang masyarakat terhadap pendidikan Islam itu sendiri,” ujar Herman dalam sidang terbuka tersebut.
Salah satu temuan penting dalam disertasi ini adalah kemampuan TGH. Zainuddin Abdul Madjid dalam mengintegrasikan pendidikan agama dengan pendekatan yang lebih sistematis dan terorganisir, mulai dari penguatan kelembagaan, pengembangan kurikulum, hingga perluasan akses pendidikan bagi masyarakat NTB.
Herman menambahkan, model pendidikan yang dibangun menunjukkan karakter Islam Nusantara yang adaptif terhadap konteks lokal.
“Apa yang dilakukan beliau menunjukkan bahwa pendidikan Islam bisa tetap berakar pada tradisi, namun sekaligus responsif terhadap perubahan zaman,” lanjutnya.
Melalui penelitian ini, Herman Zuhdi tidak hanya merekonstruksi sejarah, tetapi juga menawarkan perspektif baru tentang pendidikan sebagai kekuatan transformasi sosial.
Dengan terselenggaranya sidang terbuka ini, Unusia terus berkomitmen mendorong lahirnya karya-karya ilmiah yang tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan masyarakat.