Refleksi 100 Tahun NU, Kiai Ma’ruf Amin Tekankan Peran Strategis Unusia dalam Merawat Tradisi Intelektual NU

Refleksi 100 Tahun NU, Kiai Ma’ruf Amin Tekankan Peran Strategis Unusia dalam Merawat Tradisi Intelektual NU

News 5 min read

Refleksi 100 Tahun NU, Kiai Ma’ruf Amin Tekankan Peran Strategis Unusia dalam Merawat Tradisi Intelektual NU

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Refleksi 100 Tahun NU, Kiai Ma’ruf Amin Tekankan Peran Strategis Unusia dalam Merawat Tradisi Intelektual NU

Jakarta — Refleksi satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali arah gerak organisasi dalam menjaga nilai, pemikiran, dan tradisi intelektualnya. Dalam tausiyah pada kegiatan Istighasah Bulanan dan Tasyakuran Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama yang digelar di Kampus Unusia, Kiai Ma’ruf Amin menekankan pentingnya peran perguruan tinggi NU dalam merawat dan melanjutkan tradisi intelektual NU di tengah dinamika perubahan sosial dan tantangan zaman.

Kiai Ma’ruf Amin menyampaikan bahwa sejak awal berdiri, Nahdlatul Ulama tidak hanya hadir sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari maqāṣid al-syarī‘ah, yakni tujuan-tujuan utama syariat Islam yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa. Selama 100 tahun perjalanannya, NU telah melalui berbagai fase dinamika, naik dan turun, namun tetap bertahan dan kokoh karena berpijak pada nilai, pemikiran, serta jalan perjuangan para pendirinya.

Beliau menegaskan bahwa kekuatan NU tersebut tidak terlepas dari tradisi intelektual yang terus hidup dan berkembang melalui pendidikan, dakwah, serta gerakan sosial kemasyarakatan. Tradisi intelektual inilah yang menjadi fondasi NU dalam menjaga jati diri dan arah perjuangan organisasi. Namun demikian, Kiai Ma’ruf Amin juga mengingatkan bahwa tradisi tersebut menghadapi tantangan serius, terutama dalam bentuk upaya pelemahan, pemecahbelahan, dan pembelokan arah gerakan yang dapat mengaburkan identitas NU.

Oleh karena itu, perguruan tinggi NU, termasuk Unusia dipandang memiliki posisi yang sangat strategis. Kampus NU tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan formal, tetapi juga sebagai ruang pembentukan cara berpikir, sikap, dan kesadaran intelektual yang berakar kuat pada nilai-nilai ke-NU-an.

Menurut Kiai Ma’ruf Amin, melalui pengembangan keilmuan, riset, dan tradisi akademik, perguruan tinggi NU diharapkan mampu menjadi penjaga sekaligus pengembang tradisi intelektual NU secara berkelanjutan. Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan zaman yang menuntut kehadiran intelektual NU yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan komitmen keumatan.

Beliau juga menegaskan bahwa sejak awal, NU dibangun melalui dua gerakan utama yang saling menguatkan, yakni gerakan pendidikan dan dakwah, serta gerakan sosial kemasyarakatan. Perguruan tinggi NU memiliki tanggung jawab untuk mengintegrasikan kedua gerakan tersebut dalam praktik pendidikan, sehingga mampu melahirkan generasi intelektual yang berpikir kritis, berakar pada tradisi, serta peka terhadap persoalan sosial umat dan bangsa.

“Karena itu, kita harus kembali kepada khittah. Khittah itu adalah mā ‘alaihim mu’assisūn, apa yang dilakukan para pendiri, min aqwālihim, ucapan mereka, wa af‘ālihim, perbuatan mereka, wa khathawātihim, langkah-langkah mereka, wa harakātihim, gerakan mereka, wa afkārihim, cara berpikir mereka, serta wa taqlībātihim, cara mereka menyikapi dan menentang sesuatu,” tegas Kiai Ma’ruf Amin.

Melalui momentum refleksi satu abad NU ini, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menegaskan komitmennya untuk terus menguatkan peran sebagai perguruan tinggi NU yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga pada perawatan dan pengembangan tradisi intelektual NU yang berakar pada khittah, nilai keislaman, serta kemaslahatan umat dan bangsa.