Launching Special Issue Journal & Keynote Speech Yenny Wahid Tekankan Kolaborasi Sino–Nusantara

Launching Special Issue Journal & Keynote Speech Yenny Wahid Tekankan Kolaborasi Sino–Nusantara

News 5 min read

Launching Special Issue Journal & Keynote Speech Yenny Wahid Tekankan Kolaborasi Sino–Nusantara

Author avatar

Humas Unusia

Content Writer

Launching Special Issue Journal & Keynote Speech Yenny Wahid Tekankan Kolaborasi Sino–Nusantara

Peluncuran Center for Sino Nusantara Studies (CSNS) di Unusia turut dirangkaikan dengan Launching Special Issue Journal, sebuah kerja sama akademik antara Unusia dan mitra riset dari Tiongkok. Acara ini menjadi penanda penting kerja sama ilmiah lintas negara dalam pengembangan kajian sejarah, budaya, dan hubungan internasional.

Presentasi edisi khusus jurnal disampaikan oleh Dr. Ahmad Suaedy, MA.Hum dan Dr. Cand. Li Feng. Dr. Ahmad Suaedy menjelaskan arah besar kerja sama ini, termasuk fokus kajian, peluang kontribusi penulis dari Indonesia, dan target peningkatan kualitas riset berbasis sejarah serta hubungan kebudayaan.

Sementara itu, Dr. Li Feng memberikan penjelasan yang lebih personal tentang perjalanan akademiknya. Ia bercerita bahwa ketertarikannya meneliti sejarah Tionghoa berawal dari aktivitasnya di berbagai program kemanusiaan—yang kemudian membuka jalan untuk mengenali lebih jauh hubungan Tiongkok dengan negara-negara Asia, termasuk Indonesia. Dari proses tersebut, ia mulai mendalami kajian sejarah Tionghoa, jejak diaspora, dan pengaruh budaya Tiongkok di berbagai wilayah.

Li Feng menilai kolaborasi jurnal ini sebagai kesempatan penting untuk memperkuat diskusi akademik lintas budaya dan mempertemukan beragam perspektif antara peneliti Indonesia dan Tiongkok. Melalui Special Issue ini, ia berharap lebih banyak riset tentang Sino–Nusantara dapat dimunculkan dan dikenalkan ke ranah internasional.

Selain pemaparan tim jurnal, acara juga menghadirkan Hj. Zannuba Ariffah Chafshoh Rahman, M.P.A (Yenny Wahid) sebagai keynote speaker. Yenny menekankan bahwa sejarah Nusantara memiliki hubungan erat dan berjalan seirama dengan peradaban Tiongkok. Ia menyinggung aspek genealogis masyarakat Indonesia yang sebagian besar memiliki garis keturunan campuran, termasuk unsur Tionghoa, yang memperkaya identitas bangsa.

Yenny juga mengangkat contoh figur Gus Dur (Ayahnya), yang menurutnya memadukan unsur Arab, Nusantara, dan Tionghoa dalam karakter dan pemikirannya. Hal ini menjadi bukti bahwa hubungan budaya Indonesia–Tiongkok bukan fenomena baru, melainkan bagian dari perjalanan panjang peradaban yang saling memengaruhi.

Dalam penyampaiannya, Yenny menegaskan bahwa Pusat Studi Islam Nusantara bukan hanya proyek akademik, melainkan proyek sejarah yang penting untuk mengungkap keterhubungan antarbudaya. Ia menyoroti bagaimana Tiongkok berperan dalam geopolitik maritim, nilai-nilai kebaikan antarbangsa, hingga kerja sama strategis di Asia. Menurutnya, Unusia memiliki posisi tepat sebagai pemimpin akademik dalam kajian ini karena konsisten mengangkat perspektif keilmuan Islam Nusantara.

Yenny juga mendorong agar pusat studi ini dimanfaatkan sebagai ruang kolaborasi, pertukaran mahasiswa, dan pengembangan pemahaman baru tentang geopolitik. Ia berharap mahasiswa Unusia dapat memanfaatkan peluang pertukaran ke Tiongkok untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih luas dan mendalam.

Acara turut dimeriahkan oleh pertunjukan barongsai yang memberikan sentuhan budaya pada peluncuran jurnal tersebut. Kehadiran unsur seni ini memperkuat pesan tentang pentingnya memahami hubungan sejarah dan budaya secara holistik, tidak hanya dari sisi akademik.

Dengan diluncurkannya Special Issue Journal dan hadirnya pembicara kunci, Unusia menunjukkan komitmen kuat dalam membangun jejaring riset, memperkuat diplomasi budaya, dan mengembangkan kajian Sino–Nusantara secara berkelanjutan.


Penulis: Anwariah Salsabila